Sob, tau novel “Ibuk” nya Iwan Setyawan? Udah pada baca belom? Well,hari ini aku abis menyantap habis tuh novel. Novel itu Sukses bikin rasa Kangen sama rumah, especially Mamah semakin menjadi!! (tenaaangg dev,2 minggu lagii cutiiii!!!😀 )

Pada Bab-bab awal novel itu, diceritakan bagaimana sosok Ibuk mulai dari beliau muda, nikah sama si playboy pasar alias Bapak, punya anak 5 (Isa,Nina,Bayek,Rini,Mira) dan bagaimana Ibuk-Bapak membangun rumah kecil mereka. Cara Ibuk mendidik kelima anaknya itu benar-benar bikin aku jadi keinget sama sosok Mamah di rumah. Bagaimana si Ibuk mencurahkan seluruh tenaga,harta dan cintanya untuk keluarganya itu, dengan tekadnya yang kuat bahwa anak-anaknya harus bisa lebih baik darinya, harus bisa menyelesaikan sekolahnya hingga SMA bahkan kuliah. Ibuk dengan pintarnya memanage uang hasil ngangkot Bapak, hingga membuat ia harus berhutang dan bolak balik ke Pegadaian. Ibuk lakukan semuanya itu, semata-mata demi kelima anaknya yang menjadi harapannya di masa depan kelak. Yang pada akhirnya membuat salah satu anak laki-lakinya, Bayek,  bisa berhasil dan mengangkat derajat keluarganya.

Dan…11-12 dengan Ibuk, sosok Mamah juga hampir mirip seperti itu. Mungkin dengan kondisi dimana Mamah mempunyai kondisi perekonomian yang sedikit lebih baik dari Ibuk. Mamah sangat pintar mengatur keuangan di keluarga kecil kami. Penghasilan Bapakku yang notabenenya PNS biasa alias cuma Fungsional umum), bisa diatur sedemikian rupa sama Mamah sehingga kami bisa sekolah dengan normal (tanpa ada tunggakan) bahkan dengan tabungannya Mamah bisa membiayaiku masuk ke Perguruan Tinggi dan bisa memenuhi kebutuhan hidup kami yang lain.

Hingga pada akhirnya, buah dari doanya Mamah dan keringatnya Bapak…aku bisa lolos CPNS. Aku pun harus berpisah dengan mereka untuk sementara, menjalani kehidupanku sendiri di rantau.
Nyaris 2 tahun aku disini, memulai hidup baruku sendiri. Dan, kesimpulanku sampai saat ini (semenjak jadi anak rantau dan masuk ke dunia kerja)…Hidup itu perjuangan, Hidup itu memang tidak mudah!

Ada beberapa bagian dan kutipan dari novel “Ibuk” ini yang menggelitikku, membuat aku tersadar, sosok Bayek si anak laki-laki satu-satunya di Keluarga Ibuk ini benar-benar menginspirasiku.

Bab “Hidup Baruku”

                Dunia ini memang semakin rumit. Semakin maju, tapi juga semakin banyak kegelapan. Semakin kotor. Semakin susah menemukan cinta yang tulus. Apalagi menjaga kebersihan hati.
Sepuluh tahun aku berkelana menjelajahi hidup di negeri seberang. Jauh di seberang. Aku meninggalkan hatiku di kota kecil ini demi cinta. Dan dari seberang sana juga aku menemukan cinta. Aku menemukan diriku.
                Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. Hidup semakin luas.
Dari kejauhan, aku menemukan diriku. Aku menemukan sedikit makna perjuangan hidup yang pernah kutakuti. Di luar sana, aku mencoba menembus batas ketakutan.

Dan juga petikan percakapan antara Bayek kepada rekan kerjanya Rachel di Bab “Buah untuk Bapak dan Ibuk”

“But, Rachel, I love my job, I love data. And hey, we learn a lot here. This is like a university for us. Every year, we have a new stuff to learn. I know the pressure is always on. Work is always crazy,” kata Bayek. “People quit their job and move on. They have their own lives and hey, we have our own lives. It’s not the same.”

plus…kata-kata:

Stress is everywhere following us. It Is in our hand how to wisely handle the stress. Don’t leave your job because it’s too stressful. Move on, because you want to learn more. Stress is good! Let’s challenge ourselves.

Wew!! itu semua bikin aku jadi teringat sama kondisiku sekarang ini, gimana aku suka stress sendiri jauh dari keluarga, hatiku benar-benar tertinggal di Jakarta sana, aku yang masih susah beradaptasi di lingkungan baru dan lingkungan kerja yang suka bikin aku pengen teriak-teriak sambil jedotin kepala. Tapi, selalu ada Mamah yang dari jauh senantiasa menemaniku…memberiku kehangatan…cintanya yang tulus buat anak perempuannya ini, yang bikin aku bisa terus bergerak menjalani kehidupan di rantau ini. Yang harus disadari, masalah dan kerjaan itu gak ada habisnya, jadi berusaha sekuat tenaga untuk dinikmati dan dijalani dengan ikhlas.
Aku punya misi disini, dan nggak akan selamanya aku disini. Tapi, sebelum misi itu selesai aku harus bisa bertahan dulu disini. Ini semua demi Mamah, demi keluargaku. Toh slama disini aku banyak belajar menghadapi hidup, belajar menjadi dewasa.

Benar kata Mas Iwan di Bab “Vertigo”

Rasa cinta itu kadang semakin jernih ketika kita harus terpisah. Rasa cinta itu bisa tambah subur di tempat yang asing dan jauh. Rasa cinta itu tumbuh lewat jalan yang berliku, lewat kegelapan dan air mata. Rasa cinta yang seperti  itu sejatinya akan menjadikan kita kuat.

That’s true!!Itu yang aku rasakan!!Cinta antara aku dan Mamah serta keluargaku di Jakarta!!!😉

Maafin aku yaa Mah, yang belom bisa bikin Mamah bahagia seutuhnya karena aku. Maafin aku yang justru semakin membuatmu khawatir semenjak di rantau. Makasih atas doa-doamu yang senantiasa kau panjatkan padaNYA untukku. Terimakasih atas cintamu yang tiada habisnya untukku. Mamah, Bapak, Adek dan sahabat-sahabatku adalah semangatku. Aku nggak mau bikin kalian kecewa. Aku mau jadi lebih baik. Aku mau jadi yang kalian banggakan. Jangan khawatir denganku, Allah senantiasa menjagaku disini…Allah yang dengan setia menemaniku disini…
Tunggu aku yaa, suatu saat nanti aku PASTI KEMBALI!!!